Mu’jizat Kasat Mata

Mu’jizat Kasat Mata

0
643

Arah tak terduga

Ketakjuban itu berawal 20 tahun silam dari halaman belakang sekolah. Sore itu para siswa SMA A2 (jurusan Biologi) memulai untuk merubah identitas tanaman terong. Terong yang tampak ungu itu hendak dirubah menjadi tomat merah besar. Ah mustahil, gumam sebagian besar siswa saat itu. Itu sudah dari sononya, mana bisa diubah-ubah. Tetapi karena itu perintah guru -sosok yang dianggap abdi Tuhan karena ketulusannya berbagi-, siswa-siswa itu pun sibuk memilih dan memilah batang-batang terong untuk kemudian dibelah pangkalnya dan ditancapi dengan batang tanaman tomat. Okulasi stek istilahnya.

Beberapa minggu berlalu, terjawab sudah ‘kekerdilan’ wawasan para siswa SMA ini. Ajaib!! Pohon terong itu berbuah tomat! Ya, ia tak lagi disebut pohon terong, ia disebut pohon tomat. Sungguh sebuah pertunjukkan alam yang menakjubkan!

Saat itu juga muncul kesadaran baru, kalau tumbuhan yang tak bergerak agresif alias hanya diam ditempat saja bisa berubah identitas dan berubah nasib, berarti manusia memiliki kemungkinan beribu-ribu kali lipat untuk berlaku demikian.

Tentu ini bukan masalah benar atau salah tentang berubah identitas. Bukan pula masalah baik atau buruk. Sedikit berempatilah pada terong dan tomat. Terong yang pada kodratnya selalu berbuah ungu dan agak mengerikan bagi sebagian orang, tiba-tiba ia berbuah merah ranum segar yang menarik banyak mata orang apalagi disaat cuaca panas. Pun pohon tomat yang pada kodratnya tak mampu sekedar kokoh menopang buahnya, tiba-tiba ia menjadi sangat tahan untuk menahan beban buahnya tak hanya satu bahkan sampai lebih dari lima. Tentu itu sebuah kegembiraan bagi pohon tomat yang tak lagi perlu memutilasi antar bunga (calon buah) hanya agar bisa tumbuh, melainkan akhirnya tumbuh bersama-sama. Betapa sangat bahagianya terong dan tomat itu mendapat nasib yang tak terduga tersebut. Dan mungkin itu yang disebut keindahan sejati. Tak peduli berapa lama hidupnya, asal hati merasa bahagia setiap waktu, itulah keindahan. Terong dan tomat pun seolah menggumam berbisik “bila terlalu banyak hal yang tak terduga, berusaha dan berharaplah itu keindahan yang akan menghampirimu”. Karena kata cendekia, rezeki datang dari arah yang tak diduga. Pun sebaliknya, bila segala sesuatu sesuai dugaan, itu akan lebih banyak berakhir menyesakkan daripada membahagiakan.

Buah tak jauh dari pohonnya

Kelapa di seberang laut itu tampak tersenyum sinis melihat tingkah polah tomat dan terong. Apalagi buah kelapa itu ada diketinggian pohonnya yang berderet di pantai. Kelapa ini pun akhirnya tak tahan untuk tak menceritakan kisah bahagianya.

Kelapa ini bangga berada di ketinggian sehingga ia bisa memiliki sudut pandang yang luas untuk menyaksikan dunia. Belum lagi ketika ia jatuh di pantai dan kemudian terbawa air laut, ia pun melanglang buana hingga akhirnya terdampar di belahan pantai yang lain. Di situ ia lambat laun tumbuh menjadi pohon-pohon kelapa lain. Ia pun semakin tersohor karena menghiasi deretan pantai. Belum lagi ketahanan umurnya yang teramat panjang bila dibanding terong dan tomat. Ditambah lagi, nyaris tak ada bagian dari kelapa beserta pohonnya yang tak berguna. Mulai dari batang pohonnya, tulang-tulang daunnya, daunnya sendiri, kulit buahnya, sabutnya, batoknya, inti buahnya hingga air buahnya.

Nyaris tak ada celah bagi kelapa, jelas ia merupakan representasi sebuah kesempurnaan pohon. Wajar bila kemudian kelapa sangat bangga dengan identitasnya. Hingga tiba pada suatu sore, kelapa itu mendengar obrolan ringan antara tomat dan terong tentang sebuah keindahan hidup. Andai saja saat itu kelapa tak bersedia merendahkan hati, ia takkan pernah mendapat hikmah kehidupan. Kelapa baru saja tersadar, meski ia berada di puncak ketinggian, meski ia melanglang buana layaknya manusia, ia ternyata tak terbebas sebagaimana terong dan tomat. Kelapa ternyata tak pernah jauh dari pohonnya! Ia hanya jauh dalam dimensi ruang dan waktu. tetapi kebahagiaan sejati tidak muncul dari keterbatasan ruang dan waktu kawan! Kebahagiaan sejati muncul dari sebuah rasa yang menerjang ruang dan waktu. Kelapa tak pernah bisa lepas dari identitas tunggalnya!

Setiap makhluk selalu memiliki personalitas, sebuah karakter asli dari makhluk tersebut. Personalitas dibutuhkan untuk bertahan hidup. Tetapi setiap makhluk juga memiliki potensi membangun sebuah identitas atau bahkan berbuah-buah identitas, agar ia bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Tentu sebuah kegembiraan bagi makhluk yang bisa berganti-ganti identitas. Belajarlah pada Rahwana, sang Dasamuka (sepuluh wajah). Anak-anak kecil selalu mendambakan kemampuan Dasamuka agar bisa menyapa siapapun.

Kelapa tak lagi tersenyum sinis ketika sekonyong-konyong terong dan tomat menghiburnya dengan kalimat sakti. “Ah, ini kan pilihan hidup kita, ketika dulu ditawari untuk memimpin dunia, kita tak ada yang berani mengambil tanggung jawab tersebut. Jadi wajarlah kalau sekarang kita tak bisa bertindak macam-macam dan kodrat kita diam di tempat untuk tumbuh ke atas. Karena kita tumbuhan!”, pungkas terong dan tomat bersamaan sambil tersenyum, yang kemudian diikuti tertawa renyah bersama-sama ketiganya. Perkara bertukar identitas yang menjadi musabab mereka gembira berlebihan, bagi terong dan tomat itu adalah mu’jizat!

Ketiganya pun nyaris tak ada yang sedih dan tertawa bareng-bareng menyadari kodratnya. Hingga kemudian mereka sejenak diam tak tertawa, melainkan saling pandang dengan pandangan yang tampak sudah saling mengerti. Selanjutnya, mereka tertawa jauh lebih keras. Karena mereka bertiga tanpa sengaja menoleh bersamaan menyaksikan tingkah polah anak manusia!

“kurang ajar” benar mereka bertiga ini, berani-beraninya menertawakan anak manusia, sang Khalifah, manajer bumi.

Hebat dalam kekerdilan

Anak-anak manusia itu kumpulan makhluk hebat. Mereka mampu mengelilingi buana. Mereka bahkan tak hanya mampu menjadi Dasamuka, menjadi Satamuka atau Sahasramuka pun mereka mampu. Jangankan memiliki 10 identitas, memiliki 100 bahkan 1000 identitas dalam satu hari pun mereka mampu!

Mereka ditunjuk menjadi manajer bumi, jadi sangat wajar bila mereka berganti-ganti identitas demi peran-peran yang berbeda. Bagaimanapun, kelenturan atau fleksibilitas identitas ini dibutuhkan agar manusia mampu mengikuti dinamika alam. Seorang pemimpin yang baik adalah yang paham arah dan maunya yang dipimpin, bukan sebaliknya. Pemimpin tak butuh dimengerti, karena ia yang wajib mengerti rakyatnya.

Mereka ada yang beridentitas dokter, ada yang dosen, ada yang bupati, ada yang camat, ada yang gubernur, ada yang jenderal, ada yang petani, ada yang pedagang, ada yang insinyur, ada yang pengusaha, bahkan ada yang presiden. Adakah yang salah dengan identitas-identitas mentereng tersebut? Tidak! Sama sekali tidak ada yang salah dengan identitas, karena ia benda tak hidup. Laksana pisau, kalaupun ia melukai hingga membunuh sekalipun, ia tak akan salah, karena ia tak berkehendak. Demikian pula identitas. Identitas adalah pisau. Bisa untuk menghidupi, di sisi lain ia mampu memusnahkan.

Dengan identitas yang sangat mentereng tersebut, anak-anak manusia ini jelas kumpulan orang-orang hebat yang akan sangat sanggup menata bumi sedemikian rupa hingga mampu menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua makhluk.

Tapi tunggu dulu. Kehebatan bukan soal macam identitas, tetapi tentang bagaimana identitas itu diperoleh. Apakah luar biasa bila seorang anak menjadi dokter karena orang tuanya dokter? Apakah aneh bila seorang anak menjadi jendral karena ia semenjak kecil berada di lingkungan militer? Apakah menakjubkan bila seorang anak menjadi gubernur karena tiap hari ia menyaksikan protokoler kenegaraan? Sekilas itu tampak hebat, hingga sebenarnya itu merupakan hal yang teramat wajar. Biasa saja kata orang-orang di warung. Itu sama sekali tak mengejutkan, apalagi sampai disebut keajaiban. Itu terlalu mudah ditebak.

Bolehlah itu dibilang luar biasa bila seorang Sidharta Gautama memilih keluar kerajaan dan menjalani kehidupan rakyatnya. Sah-sah saja bila seorang anak desa bernama Habibie yang tak mengenal listrik kemudian karena kemauan kuatnya ia menjadi teknokrat bahkan presiden, disebut dengan hal yang menakjubkan.

Bukan pada ia mantan orang besar ataupun ia akhirnya menjadi presiden yang menjadi kehebatannya, tetapi pada kesadarannya untuk memanfaatkan potensi Dasamukanya guna menikmati indahnya dunia.

Aha, akhirnya terjawab sudah rasa penasaran kenapa kelapa, terong dan tomat tadi tertawa renyah berbarengan. Kenapa pula kelapa tak jadi bersedih. Karena mereka menyaksikan fenomena-fenomena kekinian bagaimana anak-anak manusia itu tak berlaku atau bersikap sebagaimana mestinya. Alih-alih mengoptimalkan kemampuan dasamuka bahkan sahasramukanya, mereka malah mencontoh sikap buah kelapa yang hanya memiliki 1 identitas. Bahkan sekarang kelapa pun iba pada anak manusia. Anak manusia yang terlanjur melanglang buana bertebaran di muka bumi, tetapi mendekati akhirnya hidupnya malah “menyusu” kembali pada si induk. Dan akhirnya kelapa bersama terong dan tomat pun hanya mendoakan semoga anak manusia itu menemukan kemerdekaan atas dirinya.

Ini mu’jizat!

Otak ini tiba-tiba terbangun dari tidur dan membuyarkan mimpi tentang perjalanan yang dimulai 20 tahun silam. Setengah berat membuka mata, dan frekuensi otak masih dikisaran alfa, lamat-lamat ingatan ini menata kembali fenomena-fenomena baru-baru ini. Masih tentang anak manusia. Masih juga tentang keajaiban.

Perjalanan safari ke desa-desa beberapa waktu lalu memberi sebuah misteri baru. Misteri yang terasa menakjubkan saat ini. Bagaimana mungkin anak-anak kampung macam Nawa, Nila, Winni, Zaha, Riyu, Aal, Nipra dan yang sejenis itu bisa membangun identitas yang benar-benar baru. Mereka keseharian tumbuh dan berkembang di wilayah yang sama sekali tak bersentuhan dengan dunia intelektual. Mereka hanya berkutat pada sawah, ladang, kerbau, sapi, ayam atau paling keren truk-truk pengangkut tebu yang berlalu lalang di depan rumahnya.

Tetapi apa yang terjadi hari ini? Tiba-tiba saja mereka telah berdiri gagah di bangunan megah bernama kampus! Aneh? Ya, sangat aneh! Bagaimanapun, selalu ada panutan bagi seorang anak untuk melangkah. Tetapi mereka? Orang-orang tua mereka bukanlah orang kampus, tetangga mereka juga tak ada yang dosen, saudara-saudara mereka juga bukan mahasiswa atau pegawai kampus.

Ini jelas mu’jizat! Anak-anak desa yang memilih menghiasi hidupnya dengan membangun identitas baru bernama mahasiswa, jelas itu kejadian di luar nalar. Sah-sah saja kalau mulut ini mengatakan itu adalah mu’jizat. Dan mu’jizat itu kian sempurna menyaksikan anak-anak itu melangkah jauh hingga mendapat identitas baru lagi bernama sarjana. Itupun masih dilanjutkan dengan pelan tapi pasti melontarkan diri ke belahan dunia lain. Bukan untuk tampak hebat mereka melontarkan diri, tetapi untuk memberi manfaat kepada wilayah yang lebih luas baik horizontal maupun vertikal.

Kepada anak-anak kampung itu, akhirnya kelapa, terong dan tomat menaruh respek atas kesadarannya bersikap sebagaimana mestinya Khalifah, Sang Manajer Bumi.

Dan kelapa, terong, tomat merasa sangat iba kepada anak-anak yang tampak hebat tetapi tak jua menyadari kemerdekaan dirinya hingga meski tampaknya sudah berjalan jauh tetapi tak cukup berani terlepas dari induknya, laksana mantan presiden, eh kelapa. Kasihan!

 

Christyaji Indradmojo

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY