Berawal dari sebuah kegelisahan seorang Yeni Lathifah terhadap lingkungan sekitarnya, tepatnya di desa Sumberboto kecamatan Wonotirto kabupaten Blitar, ia pun menginisiasi sebuah kegiatan bernamakan Ngaji Literasi. Yeni merasa terpanggil ketika melihat anak-anak di lingkungan sekitarnya masih banyak yang belum bisa baca tulis. Padahal anak-anak tersebut juga ada yang sudah kelas 5 SD.

Yeni semakin resah ketika mengetahui bahwa ternyata keadaan itu tidak sama rata. Anak-anak yang sekolah di luar daerah itu, di Kota Blitar, ternyata memiliki kemampuan akademis yang lebih daripada anak-anak yang sekolahnya tetap berada di daerah Sumberboto tersebut. Mengetahui hal ini, Yeni pun tidak tinggal diam. Yeni mencoba mengkonsultasikan hal ini kepada Bapak asuhnya di Malang, seorang dosen Fakultas Psikologi dan juga menjadi salah satu dosen yang menginisiasi berdirinya fakultas Kedokteran di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dr. Christyaji Indradmojo.

Tepat pada 11 Maret 2017, Yeni pun memutuskan untuk mengadakan Ngaji Literasi di masjid Sumberboto, masjid yang tak jauh dari rumahnya itu. Ngaji literasi ini memang bukan murni sesuatu yang baru. Yeni hanya berusaha mengembangkan apa yang sudah ada guna menjawab permasalahan yang sudah ada.

Di masjid Sabilul Muttaqin itu, setiap sore anak-anak kampung dan juga beberapa ada yang dari luar desa tersebut ngaji TPQ. Memanfaatkan hal ini, Yeni pun meminta waktu kepada pengurus TPQ untuk mengisinya dengan mengajari anak-anak tersebut baca tulis. Kegiatan baca tulis di Ngaji Literasi ini bukan hanya sekadar baca tulis biasa. Dengan penuh kesabaran dan ketlatenan, Yeni mengajari anak-anak itu untuk memahami apa maksud dari suatu bacaan dan juga bagaimana mengkomunikasikan gagasan baik lewat tulisan maupun perkataan.

Penulis sendiri pernah ikut langsung merasakan suasana di Ngaji Literasi tersebut. Di ngaji literasi yang digelar dua minggu sekali setiap Sabtu sore itu, Yeni juga mengajarkan bagaimana agar anak-anak itu bisa bersosialisasi dan peka terhadap lingkungan sekitar. Waktu itu, di pertemuan sebelumnya Yeni memberikan anak-anak Pekerjaan Rumah (PR). Anak-anak itu diminta untuk mencatat nama-nama RT masing-masing, bersilaturahmi ke tetangga sekitar untuk menanyakan nama-nama dan beberapa data anggota keluarga tersebut.

DSC_0557

Kegiatan ini mengajarkan anak-anak tersebut tidak hanya terasah kemampuan baca tulisnya, akan tetapi juga karakter dan kepekaan sosialnya. Dan anak-anak selalu semangat, mereka selalu tampak senang setiap menyambut hari ngaji literasi.

Bersama seorang temannya, Firza Dwi Hasanah, dan tak jarang juga sendiri, Yeni melakukan perjalanan dua minggu sekali dari Malang ke Blitar untuk memenuhi panggilan kerinduan anak-anak kampung itu. Yeni mencoba berbagi sedikit apa yang telah ia dapatkan kepada anak-anak itu. Agar nikmat ilmu itu tak hanya ia rasakan seorang diri, tapi juga anak-anak itu, anak-anak yang kelak akan menjadi penerus Ibu Pertiwi. Tak mendapatkan upah materi pun tiada masalah, menyaksikan anak-anak itu semangat belajar pun bagi Yeni itu sudah lebih dari sekadar indah.

 

Hilwin Nisa’

LEAVE A REPLY