Pendidikan yang Taat Hukum

Pendidikan yang Taat Hukum

0
772

 

Adakah pendidikan yang tak melanggar hukum? Jawabnya, TIDAK ADA. Namanya belajar pasti melanggar hukum.

Pendidikan merupakan proses belajar mengajar yang bertujuan membuat seseorang mampu dari sebelumya tidak mampu. Ada beberapa tahap pembelajaran sesuai dengan kapasitas siswanya.

Pada awalnya, siswa adalah “orang yang tidak sadar bahwa ia tidak mampu”.

Pada siswa seperti ini, maka tujuan pembelajaran adalah “mengenalkan” pengetahuan yang seharusnya dikuasai. Siswa hanya akan mendengar, melihat, merasakan tanpa melakukannya. Bahasa kerennya sebagai observer atau pengamat. Dan pengamat “boleh” celometan semau gue tanpa takut dikenai hukum. Karena hukum hanya dikenakan pada tindakan yang TELAH terbukti merugikan. Hukum tak bisa menghukum NIAT buruk. (Karena niat tak pernah bisa dibuktikan, sedang hukum berdasar bukti). Tujuan dari tahap pertama ini adalah mengasah kemampuan “reasoning” dasar, kemampuan menghubungkan dua titik, mana sebab mana akibat. Bahasa kerennya sering disebut kemampuan kognitif.

Pada tahap kedua, setelah siswa melewati tahap pertama, maka siswa akan menjadi seseorang yang “sadar bahwa ia tidak mampu”. Pada siswa ini yang perlu dilakukan adalah memotivasi, mendampingi untuk menerjemahkan pemikiran-pemikiran, ide-ide, teori-teori yang ia punya menjadi sebuah tindakan konkret tetapi tidak pada subyek yang sesungguhnya. Jadi proses simulatif. Bahasa kerennya praktikum di tempat simulasi kerja (labora) yang nama kerennya laboratorium. Tujuannya adalah terbentuknya otomatisitas sikap yang beken sebagai “ATTITUDE” atau afektif. Sekaligus mengasah kemampuan psikomotor dasar.

Bila siswa itu mampu melewati tahap kedua, maka ia akan menjadi seseorang yang “sadar bahwa ia mampu”. Siswa yang ada pada tahap ini sudah “tervalidasi” kognisi, psikomotor dan afektif (kompetensi) dasarnya. Maka pada tahap ini siswa mulai disentuhkan dengan “realita” untuk menguji “reliabilitas” kompetensinya. Siswa tak lagi banyak duduk dan mendengar. Tetapi siswa mengerjakan dengan pendampingan dengan harapan memahami detail-detail masalah. Bahasa kerennya adalah Praktik kerja lapangan atau Praktik klinik.

Tetapi harus diingat, siswa-siswa ini posisinya adalah BELAJAR. Mereka memiliki kompetensi dasar, tetapi sedang dilatih kemandirian. Artinya belum kompeten sepenuhnya. Kompeten sepenuhnya bila teruji validitas dan reliabilitasnya, bukan hanya validitasnya saja.

Artinya ketika siswa ini mengerjakan pekerjaannya ia tidak dalam status kompeten. Satu-satunya cara untuk menyelesaikan tahap tiga ini adalah terbang selama-lamanya. Jam terbang menjadi kata kunci. Terbang dengan kemampuan yang belum penuh. Munculah pertanyaan berikutnya, apakah aman terbang dalam kondisi ini? Apakah aman menyopir di jalan raya dalam kondisi ini? Apakah aman mengelola pasien dalam kondisi ini? Apakah aman mengajar (guru) seperti ini?

Jawabnya TIDAK, selalu besar resiko terjadi kesalahan, kelalaian. Maka di sini mustahil siswa tidak melanggar hukum. Pasti melanggar hukum. Karena hukum manusia mengatakan bahwa yang boleh mengerjakan adalah yang sudah kompeten. Sedang siswa dalam posisi belum kompeten.

Maka di sinilah sosok guru sejati dibutuhkan. Tidak sekadar sebagai pendamping. Tetapi sebagai PENANGGUNG JAWAB atas “kesalahan-kesalahan” siswanya. Di sinilah kemuliaan guru sesungguhnya berada, mulia karena mendidik dengan sepenuh jiwa raga, meski harus menerjang hukum. Karena sesungguhnya guru-guru ini tak melanggar 1 ayat pun hukum Tuhan. Sedang hukum Tuhan jauh lebih tinggi dan murni daripada hukum manusia.

Bila siswa mampu melewati tahap 3 ini, maka ia akan menjadi “orang” yang “tidak sadar bahwa ia mampu”. Ia tak lagi menjadi siswa melainkan sudah menjadi orang, yang kemudian disebut dokter, guru, sopir, insinyur, profesional. Yakni sosok yang mampu mengerjakan tugasnya dengan baik meski dalam ketidaksadarannya.

Tahap 1 dan 2 dalam pendidikan dokter sering disebut tahap pre-klinik dan clerkship, sedang tahap 3 adalah co-ass. Tahap 4 adalah output yang seharusnya dicapai..

Christyaji Indradmojo

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY