Sekilas ini mirip dengan judul lagu, “Kasih tak sampai”.. tapi entah maksudnya sama atau tidak, toh itu lagu tentang apa ingatan ini juga sudah lupa. Ketika sesuatu tak sampai pada tujuan entah itu kasih atau pesan, ada 3 kemungkinan penyebab..

Pertama, faktor dari sang pemberi kasih atau pesan..

Kedua, faktor dari sang penerima pesan..

Ketiga, bukan keduanya..

Pada yang pertama, walau pesan/kasih itu teramat penting  tetapi sang penyampai tak paham cara bagaimana menyampaikannya pada kekasih, maka pesan itupun hanya terendap di dalam otak atau maksimal berhenti di ujung lidah alias lethologica.

Pun pada yang kedua, meski pesan kasih itu telah terpancarkan sekuat tenaga, tetapi sang penerima pesan tak membuka reseptor atau receiver-nya, tetap saja pancaran kasih itu tak sampai.

Untuk yang ketiga sedikit lain kasusnya. Pada situasi ini sesungguhnya sang pemberi pesan sudah memancarkan pesan/kasih dengan teramat kuat, dan juga sang penerima sudah mengaktifkan mode reseptor/receiver-nya. Tetapi pesan kasih tetap tak sampai. Apa pasal? Karena ada faktor X yang menghalangi atau menggerhanai perjalanan pancaran pesan kasih saat melewati jalur menuju sang penerima.

Pada sebab pertama dan kedua, manusia terlibat di dalamnya. Usaha yang optimal akan mereduksi kemungkinan kegagalan transmisi kasih atau pesan. Tetapi pada sebab ketiga, itu di luar kendali manusia, alias wilayah Tuhan. Kalau Tuhan berkehendak untuk tak mengijinkan kasih itu sampai saat itu, emang kamu mau apa?? Terserah Tuhan kan.

Ah, itu ‘mungkin’ ujian dari Tuhan..

Okelah wilayah Tuhan tak bisa diganggu gugat, tapi kan manusia boleh menawar kan? Perkara tawaran itu direspon atau tidak, itu sama sekali tak perlu diurusi manusia, biar Tuhan saja.

Maka marilah mengoptimalkan sebab satu dan dua.

Pada sebab satu, selalu berusaha berkembanglah untuk membuat pesan atau membangun kasih yang bisa dipahami orang yang dituju. Pada sebab dua, jangan beri tempat untuk mengeluh dan rasa jenuh. Bersemangatlah secara konsisten untuk selalu membangunkan kesadaran orang-orang itu agar ‘sudi’ membuka reseptor/receiver-nya. Jelas ini bukan pekerjaan yang bisa dicapai dalam singkat waktu, tapi jangan pernah hilang keyakinan. Sebagaimana rangkaian tetesan mungil air yang tak pernah jenuh berusaha melubangi batu hitam di tepi sungai.

Bila sebab satu dan dua sudah dioptimalkan, marilah berharap itu bisa ‘sedikit’ menawar Tuhan agar sudi menunjukkan jalan lurus, jalan yang dilalui pesan-pesan kasih itu.

Terlalu fokus

Tak ada yang salah dengan fokus, bahkan itu sebuah keharusan. Fokus bukan dominan milik kaum berakal. Coba tengoklah makhluk-makhluk berotak yang tak berakal semacam singa, cheetah, kucing bahkan ular. Saat berburu mangsa, mereka benar-benar fokus pada targetnya. Tetapi mereka jarang terlalu fokus.

Jadi yang menjadi masalah bukan pada “fokus”, tetapi pada “terlalu”. Dan “terlalu” ini banyak dilakukan oleh makhluk berakal.

Pada kasus penyampaian pesan/kasih di atas, kebanyakan kaum berakal ini hanya berfokus pada sebab satu. Mereka berpikir, dengan menciptakan pembawa-pembawa pesan (messiah) yang tangguh maka pesan kasih itu akan terdistribusi dan terserap dengan baik.

Karena terlalu fokus, mereka lupa untuk fokus pada titik lainnya, yakni sang penerima pesan. Bahkan mereka hampir-hampir tak berpikiran untuk mulai fokus pada faktor X, faktor di mana manusia tak punya wewenang sama sekali, tetapi ada potensi untuk menawarnya.

Hal itu bisa dilihat dari sikap dan perilaku keseharian. Kebanyakan orang sibuk menyiapkan komandan tetapi lalai menyiapkan pasukan. Mereka berpikir bila komandan kuat maka pasukan akan tangguh. Jelas terbalik cara berpikirnya. Komandan adalah bagian dari pasukan, bukan pasukan bagian dari komandan.

Sekumpulan pasukan yang tangguh terlatih, akan sangat mudah memunculkan satu orang komandan. Tetapi satu orang komandan, atau bahkan sekumpulan komandan sekalipun, tak bisa serta merta menumbuhkan pasukan tangguh, walau hanya satu saja.

Mereka lupa, hancurnya sebuah barisan tidak terletak pada buruknya komandan, itu hanya faktor pemberat. Sebuah barisan akan sangat mudah hancur bila di dalamnya ada pasukan yang buruk. Jangankan sekumpulan, satu orang pasukan buruk saja sudah cukup memporakporandakan barisan.

Kenapa ?

Karena pasukan buruk lebih sulit dideteksi daripada komandan yang buruk. Itu berarti saat pasukan buruk ini, entah sengaja atau tidak disengaja melakukan destruksi ke dalam, ia melakukan dalam jangka waktu tertentu tanpa disadari.

Arah Penyadaran

Komandan yang tak memiliki kesadaran, tak memiliki kepedulian, tak serta merta akan meruntuhkan barisan. Tetapi pasukan tanpa arah sangat berisiko menghantam barisannya sendiri, yang justru membuat musuh bersorak-sorai karena tak perlu menumpahkan keringat dan darah untuk memenangkan pertempuran.

Antara komandan gila dengan pasukan gila, dua-duanya berpotensi destruktif atau merusak. Tetapi karena komandan disorot banyak mata, maka bila terjadi gejala destruktif akan cepat direspon untuk didemarkasi atau dibatasi geraknya.

Maka sudah seharusnya pada situasi ini usaha yang konstan dan kontinyu untuk mendeteksi dan melakukan penyadaran pada barisan pasukan adalah pekerjaan utama.

Untuk sementara waktu, ‘biarkanlah” para komandan mau bertingkah polah “semau gue”, toh mereka sebentar lagi juga akan diterjang hukum alam, beranjak tua.

Marilah mulai beralih fokus pada penjagaan generasi-generasi larva agar tak terkontaminasi pandangannya oleh sayap-sayap buram kupu-kupu tua. Marilah dengan telaten merawat, membimbing dan menumbuhkembangkan larva-larva ini agar menjadi kupu-kupu yang jauh lebih elok dari pendahulunya dan berfungsi dengan benar.

Ini memang akan lama prosesnya, tetapi siapa yang tahu bila ini juga berpotensi menjadi media untuk menawar Sang Maha Raja untuk mengakselerasi kahanan. Semoga Sang Maha Kasih tak tega ‘menyaksikan’ larva-larva menggeliat di tengah bara kahanan.

Christyaji Indradmojo

LEAVE A REPLY