Tak Meminta Kemudahan

Al kisah seorang Guru berkata pada muridnya, “Barang siapa banyak terluka maka ia akan semakin kaya.” Ujar Sang Guru.

“Bagaimana bisa orang yang terluka akan menjadi kaya wahai Guru?” tanya si Murid penasaran.

Sang Guru tersenyum kemudian menjawab “Jika seseorang terluka semakin ia menjadi kaya Muridku. Kaya akan cerita, pengalaman, dan kebijaksanaan. Rasa sakit itu beriringan dengan bahagia, maka beruntunglah orang-orang yang berada di antaranya. Yakni orang yang mampu mengambil sikap dan makna dari rasa sakit kemudian dipantulkan kembali dalam bentuk akhlak atau budi yang mulia.”

Si murid mengagguk, lalu Guru melanjutkan penjelasannya “Seperti halnya keledai yang sehabis jatuh dari lubang, manusia tambah lebih pintar. Kesakitan pada manusia akan mendatangkan waspada dan kesadaran atas lingkungan sekitarnya. Bahwa segala sesuatu ada masa dan maknanya. Maka janganlah meminta kemudahan pada Sang Kuasa karena itu sudah merupakan janjiNya. Tetapi mintalah kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi segala sesuatunya.” Pesan Sang Guru pada murid sebelum meneruskan perjalanan.

Hal Pertama yang Perlu dilakukan

Meraih cita-cita atau suatu yang kita inginkan ibarat menyalurkan air dari tangki air ke kran, ada banyak pipa di sana yang saling sambung. Supaya air dapat keluar dari kran, kita harus memastikan pipa-pipa airnya tidak bocor. Jika pipa bocor apa yang akan terjadi? Ya, air akan keluar sedikit dari kran atau bahkan tidak keluar sama sekali.

Begitulah halnya jika memiliki sebuah keyakinan, cita-cita, atau mimpi yang dalam uraian di atas diibaratkan keluarnya air dalam kran. Pipa sebagaimana usaha kita. Jika pipa bocor dalam artian kita membiarkan diri kita bermalas-malasan atau tidak mau belajar dari kesalahan yang sama maka pipa akan terus bocor. Artinya usaha kita tidak akan membuahkan hasil maksimal atau bahkan sama sekali tidak berhasil!

Ada pernyataan yang menarik dari Imam Al Ghazali yang mungkin bisa kita ambil pelajaran, Jika menginginkan apa yang kau suka pertama-tama kau harus sabar terhadap apa yang kamu benci. Ungkapan di atas memiliki banyak tafsiran, namun penulis memilih sabar atau poso (menahan/tahan) atau ngerekso alias ngempet dalam memaknai sabar atas suatu yang dibenci. Apabila seorang mahasiswa ingin segera mengakhiri perkuliahan maka ia harus menjalankan tugas-tugas perkuliahan, praktikum, dan belajar sungguh-sungguh. Apabila orang yang sakit ingin sehat maka harus berusaha meminum obat dan melakukan perawatan. Begitu pula apabila seorang ingin megakhiri masa kesendirian maka juga harus tahan pada masa penantian dan lain sebagainya.

Waba’du. Sejalan dengan rakaat panjang bangsa ini adalah dimulai dari rakyat, lebih kecil lagi yakni dari diri sendiri.

Nadya Fadillah

LEAVE A REPLY