Keputusasaan Senja

Senja tetaplah senja. Hadir singkat di penghujung hari. Senja tidak bisa membantah
bahwa dia adalah senja. Senja yang dianggap orang banyak sebagai sosok yang
menyembunyikan cerahnya cahaya matahari. Senja bertahan karena sebuah
ketentuan. Bukan karena ketulusan. Bukan karena keikhlasan. Dia hanya mengikuti
perputaran bumi yang tidak pernah ingkar janji. Bukan! Itu bukan senja yang sekarang. Itu adalah Senja beberapa waktu silam…

Senja tidak pernah menyadari bahwa dia adalah sebuah keindahan. Kata orang dia
adalah keindahan yang tersembunyi. Kata orang juga kepadanya kita belajar banyak
hal. Anugerah yang tidak pernah disadari oleh Senja. Senja lupa bahwa tidak ada
sesuatu yang diciptakan yang tidak bermanfaat bagi sesamanya. Bahkan hingga kini
Senja masih seringkali menganggap dirinya yang menyembunyikan cahaya matahari.

Penawar Rasa Sakit Itu Datang

Tidak salah jika ada yang berpikir bahwa Senja sedang menjalani apoptosis. Karena
saat itu senja layaknya pesakitan yang menanti mati. Malaikat maut yang menjemput
niat, pikiran, dan karakternya sudah mendekat, semakin mendekat dan Senja siap
menyambutnya. Tetapi tiba-tiba Senja kedatangan kawan-kawan yang bercahaya yang
mendahului malaikat maut itu. Diantara kawan-kawannya yang bercahaya itu ada satu
yang cahayanya paling bersinar. Kepada Senja, kawan-kawan itu mengulurkan sebuah
penawar rasa sakit. Bahkan walau masih hanya sebuah tawaran efeknya sudah bisa
dirasakan Senja. Sakit yang diderita senja perlahan-lahan mulai berkurang.

Meskipun kadang masih merasakan sakit itu Senja masih dapat bertahan untuk tetap
manjadi kawan manusia yang ingin beristirahat di penghujung hari. Senja juga mulai
menyakini bahwa dia memang ikan Salmon yang sanggup mendaki air terjun setinggi
apapun untuk berkembang dan berbagi manfaat, seraya mencari potensi yang kata
kawannya itu dia punya.

Belajar Potensi Diri Kepada Dongkrak

Kawan yang paling bercahaya, sang penawar rasa sakit, guru, ayah tak henti-hentinya
Senja mengagumi sosok itu. Dialah sang juru selamat Senja agar tidak hanya menjadi
senja. Sosok yang selalu menyakinkan Senja bahwa dia adalah orang yang mempunyai
potensi lebih, walaupun sampai sekarang Senja belum juga menyadari potensinya.
Bahkan kadang Senja berpikir benarkah yang dikatakan gurunya bahwa dia sehebat
itu? Tidakkah ayahnya itu berbohong demi tetap menyalanya semangat Senja? Tapi
mungkinkah Senja sespesial itu sehingga sang ayah harus berbohong? Tapi
mungkinkah Senja juga sehebat itu? Entahlah. Satu hal yang diyakini Senja sekarang
bahwa tidak ada sesuatu yang diciptakan yang tidak bermanfaat untuk sesamanya.
Mulai hari itu, hari ini, dan hari yang akan datang Senja akan banyak belajar dari
potensi yang dimiliki dongkrak.

Kepada Bapak Guru tiada cukup kata terima kasih untuk membalas kasih sayang yang
engkau berikan kepada Senja, kepada kami semua. Bahkan setelah apa yang engkau
berikan, dengan lancang Senja akan meminta agar engkau tiada lelah membimbing
kami. Menularkan anugerah ilmu yang dicipratkan Sang Maha Ilmu kepadamu untuk
kami agar kelak kami juga bisa lebih bermanfaat seperti engkau.
Semoga Sang Maha Kasih senantiasa melimpahkan kasih sayang-Nya kepadamu dan
keluarga. Amiin…

Yeni Lathifah

LEAVE A REPLY