Se-Level Cicak

Se-Level Cicak

0
5484

Teman, masih ingat kan dengan pelajaran IPA masa SD/MI dulu? Pada pembahasan adaptasi, ada dua karakter yang paling aku ingat sebagai tokoh utamanya: Kak Bunglon dan Kak Cicak. Semua pasti bisa menebak apa yang tertulis selanjutnya! J J J

Setiap makhluk hidup membutuhkan jurus tertentu untuk beradaptasi dengan lingkungannya, untuk melindungi diri dari musuh, dan bertahan hidup melawan seleksi alam. Pada karakter pertama, Kak Bunglon, ia memiliki jurus jitu untuk beradaptasi yang disebut dengan mimikri. Kapanpun waktunya, ia dapat menyamakan warna tubuhnya dengan apapun objek yang dihinggapinya. Hijau bila di dedaunan, coklat di rerantingan, abu-abu di kekayuan, dan macam-macam warna lainnya. Butuh waktu yang tidak cukup lama untuk ia melakukan perubahan warna kulitnya. Sehingga, tingkat keamanan dan perlindungan yang dimilikinya menjadi lebih tinggi.

Lain ladang lain belalang, kini lain pula dengan Kak Cicak. Meski secara fisik, ia memiliki beberapa kesamaan dengan Kak Bunglon, tapi dalam banyak hal mungkin Kak Cicak tetaplah dirinya sendiri dengan segenap kekurangan dan kelebihannya. Ia tidak memiliki jurus mimikri untuk beradaptasi, tapi ilmuwan menyebut jurusnya dengan ototomi. Dalam keadaan darurat ketika berhadapan dengan musuh, ia merelakan sebagian tubuhnya terputus. Lebih tepatnya bagian ekor. Melepaskan sebagian kecil yang ia miliki dan menyerahkannya kepada musuh, untuk melindungi sebagian besar lainya agar kehidupannya tetap berlangsung. Setelah itu, butuh waktu yang tidak sebentar untuk ia dapat menumbuhkan kembali ekornya. Ilmuwan menyebutnya dengan regenerasi.

Perbandingan yang cukup asyik bukan? Antara Kak Bunglon dengan Kak Cicak. Bagi Kak Bunglon, setiap lingkungan baru mungkin harus dicurigai dan diwaspadai. Ia tak menunggu datangnya musuh untuk mengeluarkan jurusnya. Dan… mungkin ia selalu merasa dirinya dalam bahaya setiap kali berhijrah di tempat baru. Karena itu, ia lebih dulu bersiap melindungi dirinya sebelum musuh benar-benar datang dan menyerang. Sementara Kak Cicak, ia terlihat lebih bebas tanpa memiliki kecurigaan, sampai ia benar-benar berhadapan dengan musuh yang akan menerkam dirinya. Mungkin ia terlalu polos. J J J

Aku mencoba mengira-ngira rasa sakit secara fisik yang dialami Kak Cicak setiap kali ia berperan sebagai pahlawan untuk dirinya. Meski demikian, itulah pilihan yang bisa ia lakukan untuk menyambung nyawa. Dengan tanpa ekor ia menjalani kehidupannya, terus berjuang, sampai akhirnya ekornya kembali tumbuh dan ia menjadi sosok Cicak yang utuh.

Aku… mungkinkah aku ini yang se-level dengan Kak Cicak itu? [Tapi, bukan berarti aku hanya memandang dengan penilaian negatif dan menyudutkannya dari Kak Bunglon. Ini karena aku belum mengerti struktur dan fungsi anatomi ekor Cicak secara rinci. Mungkin ini akan menjadi tugas ahli biologi untuk mengajariku]. Ataukah mungkin aku ini se-level Kak Bunglon? Ahhh, tapi aku masih belum cukup cakap membawa diri di dunia baruku. Aku lebih mirip Kak Cicak yang saat ini sedang teputus ekornya dan berupaya melakukan regenerasi. Tapi, walau bagaimanapun, Tuhan selalu ada di sisiku. Aku tak boleh mengabaikan pertolonganNya. Bisa jadi inilah isyarat dari Tuhan untuk membuatku lebih kuat dengan ekor baru yang kelak akan tumbuh.

Salam curhat colongan dari gadis mungil yang menyesatkan dirinya di Padang.

Penulis : Himmatul Istiqomah

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY