Hari, merupakan salah satu bentuk dari hal-hal yang perlu dipertanggung jawabkan manusia. Setiap hari yang dihabiskan dalam napas ini, tidak terhitung banyaknya kegiatan. Baik giat yang menjadikan diri semakin dekat dengan Sumber Cahaya, atau bahkan malah menjadikan tenggelam dan hilang menuju petang.

            Napas yang berhembus di setiap tarikan diafragma ini pun selalu menemani habisnya hari-hari. Mulai menyambut sejuknya pagi hingga matahari tersipu malu bersembunyi di balik rona bulan. Ada begitu banyak napas yang begitu saja dihembuskan kemudian ditarik kembali menuju paru-paru. Terkadang napas mampu membangkitkan kesadaran betapa ada begitu banyak nikmat yang tersaji dalam setiap tarikannya. Tak jarang pula, napas ini menjadi pemicu lena, hilang sadar. Persis, layaknya yang dikatakan oleh Freud bahwa manusia sering berperilaku dan beraktifitas tanpa kesadaran yang penuh.

            Apa yang telah diungkapkan oleh Freud nampak menjadikan diri manusia menjadi hina. Sehingga, hal ini pun begitu saja ditolak dan sontak ditentang oleh banyak teori lain. Dari banyaknya teori penolakan, ada salah satu teori yang amat indah untuk disadari kembali. Teori Gestal, teori yang menekankan bahwa manusia berada pada keadaan sadar. Perilaku manusia pada saat itu, tidak terpengaruh adanya ground atau endapan masa lalu di dalam otak.

Nikmat Tuhan Mana yang Tidak Gratis?

            Kemudian, apa hubungannya napas dengan kesadaran? Ada banyak kawan, aku bisa saja menuliskan 5 artikel penuh sebanyak dua puluh lima halaman perihal tersebut. Ada banyak hubungan. Berhubungan dengan diri yang telah lama hilang sebab keirian dan keinginan menjadi orang lain. Sehingga menjadi penyebab ketidak tahuan pada diri sendiri. Jika perihal diri sendiri saja sudah tak tahu menahu, lalu apa guna milyaran napas yang telah dinikmati gratis?

Tiba-tiba tersadar dengan kerumitan-kerumitan manusia. Tapi, betapapun rumit manusia, selalu ada satu yang sederhana, bahwa setiap manusia itu membawa napas. Napas dirinya sendiri, napas lingkungan dan napas orang lain. Bukankah apa yang kita hirup adalah bekas napas orang lain juga? Betapa alam mengajarkan untuk berbagi peran.

Perihal ajaran tentang kesadaran dan berbagi. Semua terangkum dalam falsafah Jawa yang telah puluhan tahun diungkapkan sang maha guru dan pendidik Indonesia. Siapa pun yang mengaku dirinya Indonesia, hatinya Indonesia, atau jiwanya Indonesia pasti akan mengenal beliau. Ya, beliau adalah Ki Hajar Dewantara, orang yang mempopulerkan falsafah Ing ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.

Ing Ngarsa Sung Tulodho

            Ing Ngarsa Sung Tulodho, di depan memberi contoh. Kata-kata yang begitu dalam dan penuh makna. Terurai lembut dan kalem, saking dalamnya mungkin malah menjadikan banyak orang kehilangan arti maknawinya, terlepas begitu saja. Buktinya, ada banyak yang tak mengerti siapa yang di depan dan apa yang patut dicontoh. Mayoritas yang di depan selalu beranggapan bahwa dirinya pemimpin sekaligus penguasa, melupakan pedoman suri tauladan, lupa menjadi panutan.

            Mari belajar bersama perihal Ing Ngarsa Sung Tuladha. Bisa jadi, Ing Ngarsa itu tidak hanya pada saat ini saja, tidak hanya terbatas waktu kekinian. Karena untuk dapat menjadi orang yang benar-benar Ing Ngarsa yang dapat Sung Tuladha, tuladhanya tidak lekang dengan waktu. Lantas siapa yang sebenarnya Ing Ngarsa Sung Tulodho itu?

            Kenalkah dengan seorang yang bernama Muhammad. Ya, laki-laki yang selalu menggetarkan hati, pikiran dan jiwa bagi siapa saja yang mengenal perjuangnnya. Kedekatan dengan Beliau dapat dirasakan tanpa harus sejaman dengannya, tak harus pergi ke negeranya. Hanya dengan duduk dan menghayati kisah-kisahnya saja, hati yang lapang akan selalu bergetar dengan mudahnya.

            Bagaimana mungkin hati ini bisa bergetar? Ah kawan, bagaimana tidak, nama itu telah disebutkan jauh sebelum alam semesta diciptakan. Ketika mendalami nur Muhammad, akan sangat nampak sekali perilaku kemanusiaan yang sebenarnya ada dan melekat padanya, sejatinya pada siapa saja yang berlabel manusia. Jika mencari orang paling sabar, pemimpin paling adil, suami paling mengasihi dan beragam titik kesempurnaan lain. Pada Nabi Muhammadlah tertanam dan tumbuh napas kemanusiaan yang sebenarnya. Napas inilah yang sebenarnya menjadi cikal bakal Ing Ngarsa Sung Tuladha. Beliau tak terbatas waktu, tempat, dan rasa. Semua umatnya digandeng dan dipeluk dengan keteladanan.

Ing Madya Mangun Karsa

Ing Madya berarti di tengah. Sebagai manusia biasa yang telah mendapatkan hikmah ilmu, dirinya menjadi berkewajiban untuk tampil sebagai pembangun kebaikan-kebaikan. Kebaikan yang bersumber dari mata air kebaikan yang jauh lebih besar dan maha. Ing Madya adalah kesadaran bagi sekelompok manusia yang merelakan dirinya menjadi jembatan antara yang atas dan bawah.

Siapakah contoh kumpulan manusia madya? Ya, mereka adalah manusia yang sering kita sebut sebagai orang tua, guru dan para alim ulama. Jembatan yang dibangunnya telah memudahkan manusia lain semakin mendekat dengan Sang Tunggal. Jembatan-jembatan yang mereka bangun bisa dalam bentuk pemahaman, pengetahuan, dan bahkan sampai pada pengertian.

Tut Wuri Handayani

            Seorang anak manusia yang masih membutuhkan arah, tujuan dan pedoman untuk mengarungi dunia, kiranya bolehlah disebut Tut Wuri Handayani. Ah kawan, kau tentu tahu, dunia yang penuh dengan tanda tanya ini, sesekali sulit diarungi dan didalami tanpa adanya sosok panutan, sosok yang mencapai level melebihi kebijaksanaan anak-anak.

            Di suatu masa, boleh saja Ir. Soerkarno hanya meminta sepuluh dari sekumpulan anak muda untuk mengguncang dunia. Tapi, rasanya, para anak muda tetap butuh gemblengan Soekarno untuk mewujudkan perguncangan di seantero dunia. Untuk itu pemuda selalu butuh tangan manusia lain, membutuhkan Ing Ngarsa dan Ing Madya. Mereka tetap butuh mata manusia lain untuk melihat indahnya dunia ini secara luas dan jelas. Mereka, pemuda, pun tetap membutuhkan telinga manusia lain untuk mendengar sayup-sayup nyanyian alam semesta.

Napas yang bersatu

            Napas terdepan memberikan teladan, napas tengah membangun jembatan, dan napas terakhir mengobarkan dan memmbagi semangat. Biarkan yang menjadi teladan memecahkan batu-batu kedengkian, kehinaan dan ketidakadilan. Selanjutnya, beri jalan kepada napas pembangun mengambil peran di tengah, menjadikan pecahan batuan yang hina itu menjadi baik dan tersusun rapi, guna memberikan jalan bagi yang di akhir. Napas pengobar semangat pun berproses, berekspresi eksperimen, mengeksekusi, menjadi lebih tua, bijak, baik, dan semakin sadar akan kemanusiaannya. Satu tujuan, banyak peran, maka hal terbaik adalah saling menyatukan napas untuk menuju pada yang satu. Berkolaborasi, beraksi.

            Bekal napas hidup ku bukan hanya napas ku sendiri, bukan cuma paru-paru ku sendiri dan bukan pula hidungku sendiri. Tetapi ada banyak kesatuan yang berusaha dan berbenah menuju Sang Tunggal. Kita akan bersama dan bersatu. Karena di balik napasmu juga ada napasku, kita berbagi napas yang sama, kita adalah kesatuan yang tidak satu. Kita, menuju, menyatu.

Prisma Susila

LEAVE A REPLY