Genap sewindu wolu (angka delapan di Jawa red) Indonesia merayakan 100 tahun kebangkitannya. Tahun 2008 lalu, momen Kebangkitan Nasional itu dirayakan dengan penuh agenda sukacita yang begitu kentara dalam berbagai selebrasi kenegaraan. Namun ketika ditanya bagaimana hati nurani masing-masing, 252 juta rakyat Indonesia tentu memiliki cara pandang berbeda terhadap makna kebangkitan. Dan satu cara pandang yang sudah dapat dipastikan adalah sebagian besar rakyat merasa Indonesia belum bangkit sepenuhnya.

Idiom berstigma negatif yang “Indonesia banget” mewarnai 100 tahun pertama kebangkitan negeri garuda. Delapan tahun yang lalu “Indonesia banget” diartikan sebagai suatu kebiasaan kurang kece yang umum dikerjakan secara sengaja, terus menerus sampai menjadi hal lumrah. Ada dua anak manusia Indonesia janjian, keduanya berikrar bahwa tidak akan telat. Ketika hari H, ternyata keduanya sama-sama telat dengan alasan masing-masing (Indonesia banget). Macet dimana-mana, pemimpin rakyat tak mengetahui solusi atas permasalahan rakyat yang diwakilinya (Indonesia benget). Parpol yang katanya sama-sama membela kepentingan rakyat, tapi malah saling menunjukkan kepentingan golongan, “Indonesia banget.”

Delapan tahun berlalu selepas momen 100 tahun Kebangkitan Nasional. Artinya Indonesia telah memasuki tahap 100 tahun kedua. Di era digital ini, nyatanya “Indonesia banget” tak jua luntur. Bahkan semakin disuarakan dengan ragam karya menarik. Sebut saja meme, yang mengkritisi ke-jomblo-an punggawa pemerintah yang tak kunjung menemui titik solusi. Padahal jelas, dunia ini diciptakan berpasang-pasangan, ada masalah pasti ada solusi. Ketika tak kunjung menemukan solusi, jangan-jangan pemerintah yang gajinya berasal dari pajak rakyat belum juga berhasil menemukan akar permasalahan. Jika kasusnya demikian maka rakyat harus maklum lagi, “Indonesia benget.”

Tak ada batas dalam dunia digital, sebagaimana Thomas L. Friedman mengutarakan The World is Flat. Terbukti, kini dunia maya benar-benar menjadi media yang mampu menghubungkan siapa saja. Para peselancar dunia internet, tak bakal asing dengan beredarnya meme yang amat “Indonesia banget.” Tertulis dengan manis pada salah satu meme. “USA punya Whatsapp, Jepang punya Line. China punya WeChat, Kanada punya BBM. Indonesia punya WAKTU buat mainin semuanya. Hahahahaha”. Dan gambar tersebut, diamini sebagian besar rakyat Indonesia. Sebagian kecil memendam dalam hati, “Dulu saya pernah berkarya, menjadi kreator, bermimpi tentang kemandirian bangsa. Namun di negeri ini, karya tak sering dianggap berharga.” Hanya sebagian kecil, bagian yang teramat kecil. Jauh lebih kecil dari jumlah pengusaha Indonesia yang tak kunjung mencapai angka 2% dari populasi penduduk.

Tak ada rakyat di belahan dunia manapun yang semaklum rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia adalah rakyat paling mandiri. Ketika ada bencana dan bantuan tak kunjung datang, maka hujatan tak berlangsung lama. Atas inisiatif mandiri rakyat seringkali saling tolong menolong berdikari. Maka sampai di sini cukup jelas betapa rakyat di wilayah kekuasaan Indonesia memiliki potensi yang luar biasa. Potensi untuk berdikari, berdiri di kaki sendiri.

 

Men”cinta”i Indonesia

Mencintai Indonesia, memang tak semudah mencintai seorang perempuan. Jika dengan perempuan maka jelas, bagaimana proses mendekatinya, bagaimana merayunya dan tingkat keberhasilannya jelas bisa diukur. Karena menyangkut objek yang jelas parameternya, ada alat ukurnya dan amat mungkin dihitung probabilitas penerimaanya. Namun ketika mengganti objek penelitian dengan kata ganti Indonesia, semuanya nampak abstrak. Hingga timbul pertanyaan, “Bagaimana mencintai Indonesia?” “Bagaimana Indonesia bisa dicintai?”

Mencintai Indonesia, bukan perkara mudah. Mudah jika saya menerima dengan “pura-pura” mengerti bahwa ada maksud tersembunyi kenapa saya dilahirkan di Indonesia. Mungkin saja Tuhan sengaja mengirim ke wilayah bekas kerajaan Nusantara ini dengan membawa misi bahwa saya adalah salah satu pemuda yang mengemban tugas mengembalikan kejayaan Nusantara. Artinya segala bentuk penyimpangan, ketidaktertataan, ketidakteraturan, hingga semua masalah baik sektor mikro maupun makro adalah sebuah potensi untuk mencapai misi saya. Potensi yang teramat terbuka lebar bagi pemuda manapun yang ingin menggarapnya sebagai lahan migunani tumraping liyan, beroperasi membermanfaatkan diri. Bahasa politisnya, mengabdi untuk rakyat. Asyik!

Saya memang tak terlahir di masa perjuangan kemerdekaan. Sama seperti semua pemuda Indonesia masa kini, tak memiliki kesempatan untuk berjuang melawan penjajah. Tak pernah sekalipun dilabeli aktivis nasionalisme apalagi aktivis nasional. Tapi bohong jika saya nyaman menikmati kondisi kini. Bohong jika saya sudah merasa bebas dari jajahan. Dusta jika saya tidak cinta Indonesia. Cinta yang memang masih abstrak, cinta yang jelas tak terdefinisi. Intinya, cinta saya punya tendensi agar Indonesia semakin berkembang baik. Sama seperti cinta lain, tak ingin melihat yang dicintainya terluka, terlalu lama.

 

Bisa (juga) Dicintai

Indonesia memang memiliki banyak potensi. Namun potensi tetap hanyalah potensi jika tidak ada langkah aksi. Energi potensial tetaplah hanya sebatas energi jika tidak ada yang memanfaatkan. Kemungkinan tetaplah kemungkinan jika tidak ada yang menjalankan. Fi sabilillah, ‘berjuang’ di jalan Tuhan, bukan ‘berhasil’ di jalan Tuhan. Ketika sudah membawa diri yang BERKETUHANAN ESA. Maka, sejatinya perjuangan apapun baik yang gagal maupun yang berhasil, baik yang lama bertahan ataupun yang cepat mati, perjuangan tetaplah bernilai ibadah. Perjuangan itu adalah bukti bagaimana mencintai Indonesia dan bagaimana Indonesia bisa dicintai.

Seratus delapan tahun lalu, 20 Mei 1908. Tanggal yang termaktub sebagai tonggak berdirinya Boedi Oetomo, dikenang sebagai simbol Kebangkitan Nasional. Pertanyaan paling pertama dan paling utama, juga sebuah pertanyaan yang sampai kini masih relevan dan teramat sangat begitu klise, “Apakah kita sudah benar-benar bangkit?” Pertanyaan itu menjadi amat penting dan krusial. Sangat layak kembali  dipertanyakan tiap tahun. Beserta adanya pertanyaan tersebut maka, perdebatan yang kini beredar di internet mengenai siapa yang seharusnya menjadi Bapak Pendidikan Nasional, apakah Ki Hajar Dewantoro ataukah KH. Ahmad Dahlan tak lagi jadi perdebatan pokok. Sebab seandainya keduanya disandingkan dan disuruh memilih, maka keduanya akan menunjukkan kerendahan hati masing-masing. Merasa tak pantas disandangkan gelar semacam demikian. Karena bagi mereka yang penting bukanlah keduanya, melainkan Indonesia ke depan. Anak cucu keturunannya.

 

Generasi Larva : Generasi Mandiri

Telur-larva-pupa-nyamuk dewasa, begitulah konsep pendekatan Mas Noe Letto yang tertulis manis di harian kompas 8 tahun lalu. Sepertinya konsep metarmofosis tersebut masih sangat relevan untuk diadopsi hingga kini. Demi tujuan memberantas nyamuk dewasa yang bermental rakus dan tamak akan darah rakyat, diperlukan metode efektif untuk memutus rantai metamorfosis tersebut. Tidak hanya membunuh nyamuknya melainkan juga memutus lingkaran hidup nyamuk. Mengurai solusi mulai dari akarnya, holistik.

Generasi saya, generasi muda adalah generasi larva yang sudah terdesain sedemikian rupa untuk menjadi nyamuk pada masanya. Atau dengan kata yang lebih lembut, saat menjadi mahasiswa sibuk menggelar aksi demo menuntut kebijaksanaan wakil rakyat. Namun ketika duduk di posisi wakil rakyat, ternyata juga melakukan ketidak bijakan yang sama persis seperti yang dituntut dulu. Indikasi bahwa tanpa sadar kita sudah masuk dalam lingkaran metamorfosis nyamuk. Cukup.

Cukup?

Mungkin tidak selesai sampai di situ. Generasi muda, generasi larva punya bagian penting untuk dapat mengubah tradisi ini. Generasi muda adalah aktor utama, generasi yang paling cakap bertindak sebagai generasi baru yang tidak ingin mewarisi sifat kenyamukan. Bertekad kuat berusaha kembali ke diri yang sejati. Kembali ke ajaran para pendiri bangsa bahwa anak keturunan Indonesia adalah pewaris gen garuda. Bukan jelmaan nyamuk, melainkan titisan perlambang Bhineka Tunggal Ika.

Tujuan tersebut memiliki special requirement, yakni generasi larva harus bertindak mandiri. Mengupayakan cintanya pada Indonesia menjadi sebuah bukti nyata. Tidak hanya manis di bibir, melainkan berusaha terus berjuang untuk rame ing gawe. Berjuang, sebagaimana perjuangan manapun, perjuangan ini tidak pernah terbayang akan mudah. Mandiri, berdikari pada kemampuan sendiri, membermanfaatkan kemampuan yang ada di dirinya dan semua sumber daya yang tersedia di bangsanya. Sibuk meneliti, sibuk berkarya, sibuk diskusi, sibuk mengidentifikasi masalah dan sibuk menawarkan solusi. Tidak hanya asal kritik melainkan menunjukkan bukti nyata untuk menjadikan Indonesia makin asyik. Tak lupa menyibukkan diri untuk menjawab tantangan zaman. Menjawab sekaligus bertanggung jawab, tidak hanya lisan melainkan niat sungguh-sungguh untuk membaktikan diri bagi kemajuan bangsa. Apapun usaha itu, sekecil apapun bentuk usahanya, selama kita niatkan untuk meraih kembali kejayaan Nusantara, itulah makna kebangkitan sejati. Tidak berleha-leha megutuk yang sudah ada atau sekadar menikmati yang telah dimiliki, namun berusaha untuk terus berjuang. Sebab, kita adalah generasi larva yang bermental garuda. Sakti, kita adalah generasi sakti.

 

Ifa Alif
Penggiat komunitas startup & co-founder Kwikku
Tulisan ini didedikasikan untuk generasi muda.
Sebagian isinya terilhami dari pemikiran Noe Letto – Sabrang Mowo Damar Panuluh

SHARE
Previous articleDataran Lantai yang Landai
Next articleMasterpiece

LEAVE A REPLY